empty
 
 
08.09.2026 12:38 AM
Euro Menguat karena Kepanikan Pihak Lain

Pasar tenaga kerja AS yang kuat, kenaikan harga minyak, dan krisis politik di Jerman. Menurut semua kaidah yang berlaku, EUR/USD seharusnya melemah. Namun, pasangan ini justru menguat. EUR/USD bertahan berkat lonjakan cepat imbal hasil obligasi Eropa, yang dibaca pasar sebagai sinyal bahwa Bank Sentral Eropa bersiap untuk memperketat kebijakan moneter. Padahal, ini hanya aksi jual obligasi biasa — faktor negatif bagi euro yang cepat atau lambat akan terasa dampaknya.

Dinamika imbal hasil obligasi

This image is no longer relevant

Skala aksi jual ini tidak menyisakan ruang bagi ilusi. Biaya pinjaman jangka panjang untuk Prancis, Italia, dan Inggris telah naik paling tajam di antara negara-negara G7 selama sebulan terakhir, dan imbal hasilnya menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun. Bahkan Jerman, yang selama ini menjadi tempat berlindung tradisional di kawasan, tidak luput. Para investor kini menuntut premi terbesar untuk obligasi bertenor 30 tahun negara tersebut sejak 2011.

Energi menjadi bahan bakar bagi aksi jual ini. Harga gas telah naik lebih dari 120% sejak dimulainya konflik di Timur Tengah dan menyentuh titik tertinggi dalam tiga tahun pada minggu lalu. Di tengah tekanan yang sudah sangat besar terhadap keuangan publik, guncangan energi baru membuat pemegang obligasi jauh lebih cemas dibandingkan dengan sejauh mana hal itu menyenangkan para "hawk" di ECB yang potensial.

Hasil pemilu regional di Jerman

This image is no longer relevant

Situasi politik menambah kegelisahan. Partai sayap kanan Alternative for Germany meraih hasil terbaiknya sejauh ini dalam pemilu Saxony-Anhalt — 44%. Partai itu nyaris memperoleh mayoritas absolut, yang dapat membuka jalan bagi pemerintahan regional sayap kanan pertama sejak Perang Dunia II. Tingkat persetujuan terhadap Kanselir Friedrich Merz turun ke rekor terendah, hanya 15%; pejabat partai secara terbuka menyalahkannya, dan rumor tentang penggantinya kian menguat. Masih akan dilaksanakan dua pemilu regional lagi. Pasar mempunyai cukup alasan untuk cemas.

Berita utama di pasar minyak juga tidak menambah optimisme bagi EUR/USD. Goldman Sachs memperkirakan bahwa harga Brent mungkin melonjak hingga $120/barel jika serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz terus meningkat. AS menyerang kapal tanker Iran, Teheran menetapkan zona terbatas baru, dan armada AS memblokir pelabuhan-pelabuhan Iran. Skenario alternatif bank tersebut lebih tenang — $80 jika ekspor dari kawasan itu kembali normal. Iran menambah dinamika baru: negara tersebut menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman untuk mengelola lalu lintas melalui selat tersebut hampir selesai, yang dapat memperkuat kendali Teheran atas jalur perairan ini. Bagaimana respon Washington?

This image is no longer relevant

Bagaimanapun juga, rally EUR/USD bertumpu pada salah baca terhadap sinyal yang datang dari pasar obligasi Eropa, bukan pada keyakinan yang sungguh-sungguh terhadap retorika hawkish ECB. Sampai kapan para investor akan terus menyamakan aksi jual dengan pengetatan kebijakan moneter?

Secara teknikal, pada grafik harian, EUR/USD sedang mendekati batas atas dari kisaran konsolidasi 1,158–1,164. Terbentuknya breakout tidak serta merta menjamin kelanjutan tren naik. Sebaliknya, kembalinya euro ke dalam channel trading atau penolakan dari $1,166 akan menjadi alasan untuk melakukan penjualan.

Recommended Stories

Tidak bisa bicara sekarang?
Tanyakan pertanyaan anda lewat chat.